Hidup ingin lebih dan lebih

Arnold Schwazenegger masih merasa kurang puas ‘hanya’ berkiprah jadi aktor holywood. Meski namanya sudah mendunia, dia terus saja berjuang menjadi Gubernur California. Namanya pun semakin melejit. Padahal menjadi aktor pun dia sudah terkenal, kaya raya dan punya nama baik, apalagi dia sudah masuk dalam keluarga Kennedy (karena menikah dengan keponakan JF Kennedy, Maria Schriver). Malah cita-cita selanjutnya adalah menjadi Presiden AS.

Bill Clinton (mantan Presiden AS), menulis buku ‘My Life’ yang kembali mengorbitkan namanya. Buku tersebut dalam waktu yang singkat mencapai penjualan jutaan copy sehingga ia dibayar jutaan dollar AS untuk royaltinya.

Donald Trump, selama ini sudah sangat super kaya, namun dia terus menambah kekayaannya dengan berencana mendirikan gedung2 pencakar langit setiap hari. Lalu, Oprah Winfrey, presenter yang namanya sudah sangat mendunia. Tak seorangpun yang tidak senang ketika diundang menjadi tamunya. Dia tetap eksis dengan programnya Oprah Winfrey Show dengan bekerja sama dengan banyak organisasi dunia seperti PBB di bawah bendara perusahaannya Harpo Inc. Pamor oprah dapat mengalahkan selebriti top dunia dan ia pun akan terus meningkatkan kinerja lebih dan lebih lagi. Setelah berhasil dengan Microsoft, Bill Gates, yang punya hobi bioteknologi menambah kehebatan namnaya dengan mendirikan perusahaan Bioteknologi untuk mengatasi masalah kesehatan Dunia Ketiga. Ia membuat obat anti kanker, penyakit menular, disfungsi ereksi, sistem imunitas, AIDS, TBC, dll yang semuanya dibiayai seluruhnya oleh Bill Gates.

Wiliiam E. Heinecke, tidak puas hanya memiliki Mister Donut’s yang pertama kali sukses di Thailand dan Pizza Hut-nya yang mendunia, disusul dengan Ice Cream Swensens, Burger King, Sizzler, Bossini, Esprit Fashion, Restoran Steak, Cosmetic. Ia pun mendirikan museum Ripley’s, Hotel-hotel mewah di ASEAN, antara lain JW Marirot, The Regent dan masih banyak lagi.

Multi milyarder diatas mengganggap bisnis sebagaian bagian hidup yang menyenangkan. Mereka menganggap proses bisnis dari negosiasi, pemasaran hingga memperoleh keuntungan sebagai sesuatu yang sangat mengasikan, bagaikan seorang anak bermain Game Play Station, tidak dianggap sebagai beban hidup. Dan karena itulah mereka memperoleh banyak hal, lebih dari yang kita bisa perkirakan.


SHARE

Tariq Kusuma

  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
    Blogger Comment

0 komentar:

Posting Komentar

Tariq Kusuma's Official Personal Blog