Kerja Keras Ala Nabi

Tidak ada makan Siang Gratis. ( There is No Free LAunch )
Siapapun diri Anda, untuk dapat Hidup di Dunia ini dan menjalankan Amanah yang diberikan Tuhan kepada Kita, Kita perlu KErja Keras. Termasuk para Nabi.

Para Nabi yang merupakan manusia-manusia terbaik pilihan Allah SWT, dapat dikategorikan sebagai orang-orang yang selalu bekerja lebih di bidangnya, oleh sebab mencari nafkah untuk diri dan keluarganya serta menjadi teladan dan panutan bagi umatnya (At Tamimi, 1995).

Nabi Daud adalah salah satu pengrajin daun kurma yang amat getol bekerja. Menurut sebuah riwayat dari Hasyam bin ‘Urwah dari ayahnya, ketika Nabi Daud berkhutbah, tanpa rasa sungkan beliau menyatakan dirinya sebagai pengrajin daun kurma untuk dibuat keranjang atau lainnya. Dalam hadist yang diriwayatkan Hakim, Nabi Daud juga dikenal sebagai pembuat baju besi.

Nabi Idris adalah penjahit yang selalu menyedekahkan kelebihan dari hasil usahanya setelah digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang sangat sederhana. Nabi Zakaria dikenal sebagai tukang kayu. Sementara Nabi Musa adalah seorang penggembala.
Rasulullah Muhammad SAW adalah juga pedagang yang memiliki reputasi usaha dan integritas pribadi tinggi. Bahkan sebelum masa kenabiannya, penduduk Mekah sendiri telah memanggilnya dengan gelar Siddiq (jujur) dan Al Amin (terpercaya). Pekerjaan berdagang itu dilakukan Nabi SAW setelah pernah bekerja sebagai penggembala domba milik orang-orang Mekkah.

Sikap kerja lebih juga ditampakkan oleh generasi shahabat Rasulullah SAW dan para imam. Abdurrahman bin Auf, melalui kelihaiannya membaca peluang yang ada, bahkan berhasil menyingkirkan peran para pengusaha Yahudi sebagai pelaku ekonomi utama di Madinah saat itu. Utsman bin Affan, dengan kerja lebih, usaha dagangnya (bahan pakaian) membesar hingga menjadi sebuah konglomerasi usaha yang membawa banyak kebaikan bagi umat Islam di Madinah. lmam Abu Hanifah, selain sibuk mengurus umat dan menjaga syariah juga adalah seorang pedagang bahan pakaian yang amat jujur dan berhasil (At Tamimi, 1995; Afzalurrahman, 1997).

Bila Anda Merasa Artikel ini bermanfaat, silahkan Download disini, agar Anda bisa membacanya tanpa harus Online



SHARE

Tariq Kusuma

  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
    Blogger Comment

0 komentar:

Posting Komentar

Tariq Kusuma's Official Personal Blog